Kamis, 24 April 2014

Nadia...Amnesia...

Kepak sayap kupu-kupu mengejutkanku
Sesekali melirik arloji yang memeluk pergelangan tangan
Ahh...bayangmu masih juga belum ditangkap
 oleh retina mataku.
Semoga kamu tidak lupa, hari ini...
  
Sedari pagi aku mematut diri di depan cermin kamar
mengandai-andai, apakah kamu akan memujiku
dengan baju ini, yang warnanya adalah warna kesukaanmu
Ahh...Aku lupa, kamu jarang memujiku hanya karna sesuatu.

Aku memastikan sebuah bungkusan kecil didepanku.
Sebuah cup cake yang biasa saja, jauh dari kesan istimewa,
Kecuali karna cup cake itu adalah satu dari lima cup cake yang berhasil
Ahh...ya, berhasil aku selamatkan dari gosong, bantat dan gagal menghiasnya.

Sudah empat jam berlalu,
Pesan singkatku pun tak ada tanda - tanda bisa menemui frekwensi jaringan ponselmu.
Bahkan penjawab yang menyatakan jika kamu berada diluar jangkauan sinyalku sudah lebih dari berbelas kali aku dengar ketika mencoba menghubungimu...
Ahh...Mungkin satu jam lagi sebelum senja kamu akan tiba disini, memelukku meski untuk beberapa menit saja, ya...beberapa menit saja...Aku rindu

Semburat bahagia, begitu ringtone nada pesan masuk menggeliat di telingaku
Tapi...Ketergesaanku membacanya hanya menyisakan air mata...
"Nadia...dimana?. Bukankah sudah berkali Bunda Ingatkan, Lambang telah tiada, hari ini, bahkan esok pun kalian tidak akan punya waktu lagi untuk bersama-sama mencicipi cup cake itu, Sayang. Pulanglah, sebentar lagi senja dan malam akan tiba. Pulanglah, Sayang."

Note : Nadia...Amnesia... Dedikasi khusus untuk sebuah perasaan hati... Terimakasih atas waktu yang pernah ada, Terimakasih atas Kasih Sayang itu, Sayang...


Selasa, 22 April 2014

Cerita Malam


Berikut adalah cerita - cerita pendek yang menginspirasi,
semoga mendapat sesuatu setelah kalian membacanya;

1. Hari ini, Ibuku meninggal setelah pertempuran panjang dengan kankernya. Sahabatku tinggal 2000 mil jauhnya dan menelponku untuk menghibur. Sementara di telepon, ia bertanya, "Apa yang akan aku lakukan jika dia muncul kerumahku dan memberi pelukan terbesar di dunia?" "Aku pasti akan tersenyum," jawabkku. Tak berapa lama dia membunyikan bel pintuku.

2. Hari ini ketika aku melihat kakek dan nenekku yang berusia 75 tahun bercanda konyol satu sama lain dan tertawa didapur, aku merasa sepertinya aku punya bayangan sekilas tentang apa itu cinta sejati. Aku harap  merasakannya suatu hari nanti.

3. Ketika lahir kedua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong. Waktu datang
dan pergi tidak membawa apa - apa. Jangan sombong karena kaya, jangan minder karena miskin.
 Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman.
 Datang ditemani oleh tangis, pergi juga ditemani oleh tangis.

4. Kadangkala, kita perlu menjadi manusia pelupa. Lupa pada siapa yang menyakitimu, lupa pada siapa yang membencimu, lupa pada siapa yang meninggalkanmu. Agar kamu tidak bersedih dan mampu meneruskan perjalan ini tanpa berhenti karena mengingatnya.

note : dihimpunn dari beberapa sumber.

Selamat hari Kartini, Ibuku

Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
Tetapi menangis ketika aku susah
Ibu tak bisa memejamkan mata
Bila adikku tak bisa tidur karena lapar

Ibu akan marah besar
Bila kami merebut jatah makan
Yang bukan hak kami

Ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
Ketabahan ibuku
Mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar dari penjara

Ibu adalah hati yang rela menerima
Selalu disakiti oleh anak-anaknya
Penuh maaf dan ampun

Kasih sayang ibu 
adalah kilau sinar kegaiban Tuhan
membangkitkan haru insan
dengan kebajikan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan

note :
Dari buku - Aku ingin jadi peluru - karya Widji Thukul 1986

....Buat Ibuku, 
Terimakasih...telah begitu hebat,
Menjadi sosok yang hangat dalam gigil yang hebat
Terimakasih...telah begitu kuat,
Menjadi sosok yang menggenggam hatiku erat dan menegakkan tubuhku
saat dalam cobaan hidup yang berat
Terimakasih...
Selamat hari kartini, sosok yang membesarkanku sendirian.
Kaulah Kartini sejati yang kutemui sejak pertama kali mulai belajar berdiri dan mandiri.


Senin, 21 April 2014

Cinta itu, bagaimana aku.

Aku mungkin telah bersusah payah
Mencari sesuatu yang sebenarnya telah aku miliki.

Aku mungkin telah bersusah payah
Mencari kebahagian yang sebenarnya mengendap di dasar hatiku.
Terutama setelah hati itu di isi oleh kamu...

Aku menarik nafas panjang...
Serasa ingatan ini menghantarkan aroma
tujuh tangkai mawar yang pernah kamu beri untukku pertama kalinya...


Aku mencintaimu meski tanpa mawar - mawar itu,
Aku mencintaimu meski tanpa satu kotak yang berisi bunga yang tiada pernah berhasil aku tanam
Konyol sekali mengingat - ingat hal itu.

I love you,
Kamu, yang mungkin lupa mengatakan itu lagi saat ini.
I love you,
Kamu, yang berhasil membuktikan padaku.
bahwa cinta itu bukan soal berapa sering dan banyak kita mengucapkannya.
Namun seberapa kuat kita bertahan didalamnya, 
Saat pilihan untuk mendua, begitu kuat mendera.

Karna, 
Cinta itu, bagaimana aku.

Kepada Kamu

Kepada kamu yang tiada pernah letih mencintaiku...
Aku tiada pernah menemukan benar - benar bagaimana dan hal apa yang membuatmu bisa sebahagia dulu.

Kepada kamu yang tiada pernah letih mengertiku...
Maafkan aku, yang tiada pernah bisa mengerti sederhananya pikiranmu untuk membuatku bahagia.

Kepada kamu yang tiada pernah letih memelukku dalam doa-doa mu...
Maafkan aku, yang belum bisa menjadi apa yang kamu mau.

Kepada kamu yang tiada pernah letih menerima segala kurangku...
Maafkan aku, yang kerap kali menuntutmu untuk menjadi ini dan itu 

Kepada kamu...Aku mencintaimu sejak hari itu...
Sejak melihatmu dengan kemeja putihmu
Sejak membingkai senyum lugumu
Dalam ingatanku

Aku rindu, bersandar dibahumu lagi...

Karna hidup akan terus berlanjut


Malam ini rindu datang samar - samar 
Melewati ambang batas sopan yang ada, dia merenggut penuh alam bawah sadar
Menguatkan hati dengan sisa harapan yang tercabik oleh kenyataan nanar
Ya, tiada pilihan lain selain melanjutkan ini bukan?
Karna tanpamu pun hidup akan terus menerus berlanjut,
sebelum Tuhan benar - benar bersedia memeluk kita di istananya dengan erat






Jumat, 18 April 2014

Dan aku pun masih...

Karena hidup itu bagaimana memilah kenangan..
Karna kadang ketabahan kita tak setabah doa yang melangitkan pinta pada sang pemilik setiap hati 

Bagaimana belajar melepaskan yang seharusnya dilepaskan, merelakan yang sudah seharusnya di relakan, dan... tentang bagaimana saat merasakan kehilangan tanpa di iringi air mata yang berlinangan

Di suatu malam pekat yang begitu lihai menyamarkan mendung , 
seorang hawa yang hening menikmati riak degub rindu yang bertamu, 
akhirnya luruh jua air mata yang tak pernah jadi penurut,
ketika diminta menurut untuk tidak jatuh lagi malam ini.