Senin, 21 April 2014

Cinta itu, bagaimana aku.

Aku mungkin telah bersusah payah
Mencari sesuatu yang sebenarnya telah aku miliki.

Aku mungkin telah bersusah payah
Mencari kebahagian yang sebenarnya mengendap di dasar hatiku.
Terutama setelah hati itu di isi oleh kamu...

Aku menarik nafas panjang...
Serasa ingatan ini menghantarkan aroma
tujuh tangkai mawar yang pernah kamu beri untukku pertama kalinya...


Aku mencintaimu meski tanpa mawar - mawar itu,
Aku mencintaimu meski tanpa satu kotak yang berisi bunga yang tiada pernah berhasil aku tanam
Konyol sekali mengingat - ingat hal itu.

I love you,
Kamu, yang mungkin lupa mengatakan itu lagi saat ini.
I love you,
Kamu, yang berhasil membuktikan padaku.
bahwa cinta itu bukan soal berapa sering dan banyak kita mengucapkannya.
Namun seberapa kuat kita bertahan didalamnya, 
Saat pilihan untuk mendua, begitu kuat mendera.

Karna, 
Cinta itu, bagaimana aku.

Kepada Kamu

Kepada kamu yang tiada pernah letih mencintaiku...
Aku tiada pernah menemukan benar - benar bagaimana dan hal apa yang membuatmu bisa sebahagia dulu.

Kepada kamu yang tiada pernah letih mengertiku...
Maafkan aku, yang tiada pernah bisa mengerti sederhananya pikiranmu untuk membuatku bahagia.

Kepada kamu yang tiada pernah letih memelukku dalam doa-doa mu...
Maafkan aku, yang belum bisa menjadi apa yang kamu mau.

Kepada kamu yang tiada pernah letih menerima segala kurangku...
Maafkan aku, yang kerap kali menuntutmu untuk menjadi ini dan itu 

Kepada kamu...Aku mencintaimu sejak hari itu...
Sejak melihatmu dengan kemeja putihmu
Sejak membingkai senyum lugumu
Dalam ingatanku

Aku rindu, bersandar dibahumu lagi...

Karna hidup akan terus berlanjut


Malam ini rindu datang samar - samar 
Melewati ambang batas sopan yang ada, dia merenggut penuh alam bawah sadar
Menguatkan hati dengan sisa harapan yang tercabik oleh kenyataan nanar
Ya, tiada pilihan lain selain melanjutkan ini bukan?
Karna tanpamu pun hidup akan terus menerus berlanjut,
sebelum Tuhan benar - benar bersedia memeluk kita di istananya dengan erat






Jumat, 18 April 2014

Dan aku pun masih...

Karena hidup itu bagaimana memilah kenangan..
Karna kadang ketabahan kita tak setabah doa yang melangitkan pinta pada sang pemilik setiap hati 

Bagaimana belajar melepaskan yang seharusnya dilepaskan, merelakan yang sudah seharusnya di relakan, dan... tentang bagaimana saat merasakan kehilangan tanpa di iringi air mata yang berlinangan

Di suatu malam pekat yang begitu lihai menyamarkan mendung , 
seorang hawa yang hening menikmati riak degub rindu yang bertamu, 
akhirnya luruh jua air mata yang tak pernah jadi penurut,
ketika diminta menurut untuk tidak jatuh lagi malam ini.


INGATAN ADALAH KATA DENGAN TULISAN DI PENA YANG TERBUANG.

Hidup adalah proses yang kita nikmati perjalanannya.

Jika kau hendak menuju ke selatan lalu aku ke utara.

lalu kau bertanya?

Apakah mungkin kita masih dapat bertemu?

Aku berkata,

Iya,

Berapa banyak orang lain bilang, jika kau ke utara dan aku ke selatan, 
maka kita akan berselisih jalan.

Tidak sayang.

Bukankah kemana pun kau hendak berjalan,
Kita akan di pertemukan di satu titik yang menyatukan.

Ingatlah, bumi ini bulat dan bukan persegi empat.

Note : Dari sebuah tulisan Dessy Achieriny - INGATAN ADALAH KATA DENGAN TULISAN DI PENA YANG TERBUANG.

Sisi Memory


Apa yang bisa kita temui di waktu nanti,
Di satu waktu yang dengan bangga kita serukan sebagai masa depan
Dan dengah pongah mentertawakan masa lalu, yang dengan tertatih mampu kita lewati

Aku mencari kita yang terlupa akan panggilan sayang,
karna waktu menjadi teramat begitu mahal, bahkan hanya untuk saling menautkan pandang.

Aku masih bahagia, meski kau tak perlu bersusah payah mengupayakannya.
Aku masih bahagia, memandangi sisi - sisi memory menggunakan hati,
 dengan mata terpejam ini aku bisa mengumpulkan segalanya yang pernah dengan riang kita lalui

Manis, pahit, getih, suka, tawa, tangis, kecewa, amarah dan ingkar...
Aku membasuh rindu yang digerimiskan hujan, pada kubangan - kubangan ingatan 


Ambigu Bisu

Cara terindah untuk mengingat dan di ingat..
Olehmu, tentu saja.. dan oleh mereka yang sempat singgah menikmati guratan - guratan yang jauh dari sempurna ini...

Aku sebut saja kau purnama, 
yang tentu saja tak bisa datang di setiap malam.
Bulat penuhmu menyejukan mata,
teduhkan hati dengan aksara yang tak jarang mengundang tanda tanya..

Engkau adalah ambigu bisu,
yang sukar akal sederhanaku mengerti..
Kadang kecupan serupa candu menjejalkan aroma - aroma masa lalu..
Kita, kamu, dunia yang berisikan mereka - mereka itu...